Part X
Awal tahun menjadi awal yang penuh cerita tersendiri, diawali dengan tidak adanya presdir membuat para manager bekerja dengan santai dan leluasa, tidak ada drama-drama aneh didalamnya.
Namun setelah kepulangan sang presdir ini, semuanya kembali seperti semula, kadang ada drama dari ppic yang seperti biasanya dimarahi olehnya, atau misalnya dari bagian produksi yang terus membela dirinya sendiri dari kesalahan.
Ini pun tak luput dari saya sendiri sebagai orang yang terlibat dalam pengerjaan projek baru di perusahaan ini, yaa dia memarahi saya lagi dengan alasan yang tentu saja tidak diterima.
AWAL SUMBER MASALAH
Pada bulan agustus tahun kemarin, saya dan supplier berdiskusi masalah pengerjaan sebuah tooling proyek, namun pada kasus ini tooling yang lama tidak dapat dimodifikasi dengan alasan yang memang masuk akal, mereka mengajukan pembuatan tooling baru.
Akhirnya saya bersama bagian dari purchase internal pun melaporkan hal ini ke presdir, namun beliau mengatakan untuk menunggu konfirmasi dari jepang terkait hal ini. Artinya supplier ini menunggu hasil pengumuman dari hasil kesepakatan dari jepang.
Hingga bulan september dan desember saya terus saja mengingatkan presdir atas kasus ini, karena beberapa bulan lagi akan produksi masal barang tersebut, namun tak kunjung mendapatkan kepastian.
Hingga awal tahun 2024 saya mengingatkan kembali presdir ini bahkan pada saat pertama kali masuk kerja, dengan whatsapp beliau tidak merespon, akhirnya dengan email saya tujukan seberapa gentingnya ini.
Pada akhir bulan januari presdir datang ke indonesia dengan seperti biasa hanya membawa oleh oleh cemilan kecil seperti kerupuk jepang, ukurannya mungkin sekitar 5x7 sentimeter, kecil tapi jujur rasanya tidak enak. Saya pun sempat membuang kerupuk tersebut, hehe...
Hal pertama yang saya perhatikan adalah si presdir ini tumben sekali tidak ada marah-marahnya di meeting pertama bersama para manager, sekalipun ada masalah yang cukup besar. Ahh mungkin masa iya dia marah-marah saat pertama kali datang dari jepang selam sebulan lebih, rasanya aneh.
Namun keesokan harinya sifat temperamennya kembali muncul, ketika melaporkan kembali atau lebih tepatnya mengingatkan terkat tooling yang harus dibuat namun kenyataannya belum dibuat bagaimana statusnya. Dia mengatakan bahwa saya tidak memfollownya, namun padahal saya sudah mengingatkan beberapa kali bagaimana statusnya kala itu.
MENGINTRUKSIKAN UNTUK MEMBERI TAHU CUSTOMER
Presdir yang saat itu sudah marah besar, terus saja memaki saya, terutama kinerja saya. Sampai saya pun sebenarnya tersulut emosi mendengarnya berkata seperti itu, jelas saya tidak terima kalau ini kesalahan saya seutuhnya.
Dia mengatakan siapa yang akan membayar tooling ini, mengapa saat itu saya tidak berdiskusi bersama customer, saya bilang memang ini adalah tanggung jawab saya? biasanya juga pembelian tooling itu sudah didiskusikan sebelumnya oleh dia sendiri dengan marketing customer, saya hanya menjalankan jika memang toolingnya sudah fix.
Namun dia kesal dan memaksa saya agar memberitahu segera customer terkait hal ini, saya harus mendapatkan informasi siapa yang akan membayar tooling ini pada akhirnya.
BERDISKUSI DENGAN CUSTOMER
Saat itu juga siangnya saya segera berdiskusi dengan customer tentang kesalahan yang selama ini terjadi, dan meminta saran bagaimana baiknya, walaupun ini sudah terlanjur jauh namun tetap saja harus ada penyelesaiannya segera, terutama yang bisa membayar tooling ini.
Sejujurnya ini tidak sesuai dengan permintaan customer yang harusnya membuat barang dengan tooling yang sudah ada (seharusnya), namun sebenarnya tidak ada, maka biasanya supplier akan mendapatkan sanksi oleh customer ini, dan sepertinya itu akan menimpa perusahaan dimana saya bekerja.
Saya bicara sejujurnya atas apa yang terjadi saat itu, agar benar-benar tahu harus bagaimana nantinya.
PRESDIR MELAKUKAN KESALAHAN BESAR
Mengapa saya katakan demikian? karena dia ternyata sudah menerima uang dari customer di bulan agustus lalu, dengan begitu saya merasa sangat syok dan speachless, sementara presdir itu hanya tertawa saja,
Saya harus berkata apa nantinya denga customer ini, kalau sebenarnya tooling ini sudah dibayarkan, sementara kemarin saya mengatakan bahwa ini belum dibayarkan, Arrrgghhh.... blunder sekali memang orang ini, dan masih bisa tertawa.
Disamping itu pada senin depan saya harus mempresentasikan atas apa yang terjadi dengan hal ini, dengan pengakuan bahwa selama ini toolingnya belum dibuat.
BERDISKUSI DENGAN PRESDIR
Sebelum melakukan presentasi dengan customer ini, saya memperlihatkan data pada PPT yang sebelumnya sudah dibuat, dan presdir ini tidak menyetujui atas apa yang saya persiapkan, saya sangat dilarang keras untuk mengakui itu, atau lebih tepatnya berkata jujur.
Saya pun bingung harus bagaimana, dia bilang kamu harus berbohong dengan cermat, agar customer ini mengerti bahwa saya sudah melakukan kasalahan kemarin. Padahal jelas jelas saya tidak salah.
Dia membentak dengan nada tinggi "kamu akan mengatakan yang sejujurnya?? itu tidak boleh, kamu harus berbohong!!!" lantas saya berkata jika saya harus berbohong tolong beri masukan kepada saya ini bagaimana cara membuat datanya!!!
Dia hanya terdiam dan tidak memberikan masukan sama sekali, dan hal yang paling menyebalkannya adalah dia terus terusan marah tidak jelas, dan saya harus membuat data siasat kebohongan yang entah bagaimana saya membuatnya, padahal 2 jam kedepan saya harus mempersentasikannya di hadapan customer.
AMARAH TAK TERBENDUNG
Saat presdir ini mengatakan hal itu, dia pergi begitu saja, saking kesalnya saya berkata bahwa saya akan berkata jujur, lantas bagaimana saya bisa berkata bohong jika datanya tidak ada, sungguh tidak ada ide lagi, pikiran buntu karena tersulut emosi yang tak terkendali.
Saya berkata sendiri dengan nada marah, dan saking kesalnya tempat sampah di bawah meja ditendang, juga melemparkan laptop ke meja sambil pergi keluar dari office, orang-orang melihat dengan tatapan diam yang mungkin paham dengan kondisi saya yang tersulut emosi setelah berbicara dengan presir.
PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL
Tidak semua perusahaan itu menerima orang yang jujur, namun perusahaan lebih membutuhkan orang orang yang pintar dan cerdas, tentunya pintar dalam berbohong, karena sesungguhnya ini sangat dibutuhkan untuk nama baik perusahaan.
Tapi dalam hati saya, jujur tidak bisa bekerja dengan kondisi seperti ini.
0 Komentar