Percayakah Takdir? Hidup-mati Jodoh dan Rejeki

 Sangat percaya sekali, takdir ini memang sudah seharusnya dan telah ditentukan oleh tuhan. Ternyata jika saya flashback ke belakang, satu langkah saja bisa memengaruhi takdir. Misalnya soal jodoh, saat ini saya telah menikah dengan teman sekelas dulu sewaktu di SMA. Jika saja saya dulu memiliki nilai 8,9 mungkin saya bisa lolos masuk ke sekolah SMA favorit, tapi sayangnya hanya 8,6 saja. Dari sini mngkin sudah takdirnya saya menikahi seorang yang dulunya pernah satu kelas, dan hingga saat ini sudah memiliki buah hati. 


Kedua masalah rejeki, Saya masuk kerja ke perusahaan ternama di kawasan pabrik berkat teman yang mengajak untuk mengikuti tes, ketika saya ikut tes, teman saya yang mengajak ini malah tidak ikut, alasannya lamarannya kurang lengkap, jadi mau tidak mau saya sendiri yang ikut tes, dan hasilnya diterima.

Setelah dua tahun habis kontrak, saya bertemu dengan teman SMP yang memberi tahu ada lowongan diperusahaannya, dengan sigap saya mengikuti pendaftarannya, dan alhamdulilah bisa masuk bekerja dan selama dua tahun juga.

Ketiga, saya juga masuk ke perusahaan yang saat ini masih bekerja, berkat referensi teman yang dulu sama sama bekerja di perusahaan kedua, dan alhamdulilah sudah hampir empat tahun saya bekerja disini.

Jadi, kesimpulannya rejeki itu sudah diatur sedemikian rupa dan melalui jalan apapun itu, tentu berkat doa dari orang orang sekitar juga yang mendukung saya.

HIDUP - MATI

Jika dipikir-pikir seharusnya saat ini saya itu sudah tidak ada di dunia, tapi takdir berkata lain, dulu ketika diajak oleh ayah dengan sepeda jalan menuju rumah, tiba-tiba sepeda terjatuh dan saya terpental ke pinggir jalan, dan itu ke aspal, saya yang dulu tidak tahu apa-apa, mungkin sekitar usia tujuh tahun, diam saja saat terjatuh, padahal didepan mata ada mobil yang melaju kencang yang mungkin jika ayah tidak mengangkat kepala saya, sudah tewas seketika.

Kedua pada saat dipesantren mengalami sakit perut yang luar biasa, mungkin saja jika tidak ada yang peduli, saya pun pasti meninggal ditempat, karena ternyata itu adalah usus buntu yang sudah setahun meradang, dan saat itu meradang parah-parahnya.

Tapi, ada seseorang yang peduli dengan saya, menelpon ayah dirumah untuk segera menjemput, dengan dibopong dan dengan tubuh lemas, saya dibawa pulang oleh ayah dan segera dilarikan kerumah sakit.

Jadi, untuk kematian pun ada saatnya dan pastinya sudah ditentukan, sebagaimana pun parahnya penyakit atau kejadian yang tak terduga dan berpotensi kematian, tetap saja jika ditakdirkan masih hidup, pasti akan hidup sesuai dengan rencananya.

Posting Komentar

0 Komentar