Jangan Pernah Anggap Teman Kerja, Anggap Partner

 Bekerja di kantor akhir-akhir ini sering banyak tekanan dari sana sini, terutama bekerja diperusahaan yang memang tergolong lumayan besar. Tekanan sebenarnya bisa dari dalam maupun dari luar,  misalnya tekanan dari luar yaitu dari customer yang terus mengejar-ngejar deadline, dan dari dalm bisa dari internal perusahaan itu sendiri.

Saya seorang leader project yang menangani project baru perusahaan, secara sistem kerja pasti bersangkutan dengan departemen lain, yang mana saya harus terus memfollow kinerja dari masing-masing departemen. kadang ada saja yang susah di follow, memang karena kesibukan masinng masing departemen, tapi project tentunya harus tetap berjalan.

SESAMA PEKERJA TERNYATA EGOIS

INgin menang sendiri menjadi ambisi para pekerja ini, ambisi disini memang banyak sekali macam nya, seperti ingin terlihat bagus kinerjanya dihadapan atasannya, dan bahkan berambisi mengambil keuntungan sebanyak mungkin diperusahaan ini.

Salah satunya ialah orang yang memang mendapatkan lahan basah, yaa itu adalah departemen yang melakukan pembelian diluar. Jika mereka melakukan pembelian pastinya ada janji dengan orang luar, misalnya ada perjanjian yang dimana jika saya membeli ini , maka saya harus mendapaatkan keuntungan beberapa persen dari total pembelian.

Saya pernah kala itu hampir bertengkar karena dia menyepelekan pilihan supplier yang memang saya pilih, dia mengatakan bahwa dia tidak akan bertanggung jawab jika ada apa-apa kalau memilihnya.

Sontak disitu saya marah, dan sedikit berkata agak tinggi, bahwa itu bukan tanggung jawab saya, melainkan orang lain, tugas saya ialah memilih supplier yang berkualitas.

Saat itu saya tidak akan mengganngap itu sebagai teman kerja, melainkan hanya partner saja, jadi singkatnya saya bisa marah sewaktu-waktu ke orang terkait kalau orang itu memang menjengkelkan dan membuat nama baik saya buruk dimata perusahaan.

MERASA TIDAK ENAKAN

Hal yang sering menjadi penghambat dalam bidang pekerjaan adalah memiliki rasa tidak enakan, misalnya saya dekat dengan orang tertentu atau kelompok tertentu, saking dekatnya sampai membahas hal pribadi yang memang sebenarnya tidah harus dibicarakan. Namun sudah terlanjur percaya terhadapap orang itu.

Pada akhirnya ketika ada pekerjaan dan saya sedang keteteran, saya merasa tidak enak jika harus meminta bantuan orang lain yang memang masih satu departemen atau ada hubungan dengan pekerjaannya. Saking tidak enaknya akhirnya saya pun keteteran.

Nah hal ini juga yang menjadi pertimbangan dalam masalah pekerjaan, saya tidak pernag menggap teman, anggaplah partner, jadi jika dalam kondisi seperti ini bisa meminta bantuan tanpa harus ada rasa tidak enakan.


Posting Komentar

0 Komentar