Kehidupan memang tidak semulus yang dikira, saya ingat sekali kehidupan yang benar benar hidup adalah ketika masa sekolah dasar. Jujur dulu memang keluarga yang serba tidak punya, namun rasanya tetap tenang tenang saja.

Jika ingin apapun hanya tinggal minta orang tua, tidak pusing akan pikiran apapun, yang terpenting adalah belajar dan belajar.

Saat di umur 25, semuanya berubah, saya harus bersikap mandiri. Memang menyenangkan memiliki uang dari hasil pekerjaan, terlebih bekerja diperusahaan yang ternama dengan gaji yang sangat cukup (untuk diri sendiri).

Pernah suatu ketika tidak nyaman dengan pekerjaan, baru saja enam bulan sudah mengeularkan diri. memang payah, tapi memang tidak cocok. Jika dipaksakan pun batin semakin memburuk.

Saat sudah menikah, semuanya menjadi berbeda. awalnya bekerja untuk diri sendiri, yang jika setiap gajian bisa membeli barang apapun tanpa harus berfikir, kini tidak bisa seperti dulu.

Mungkin saat istri masih bekerja itu ekonomi baik baik saja, masih bisa membeli itu ini dalam batas wajar. namun saat hanya saya yang bekerja, semua tumpuan keluarga ada ditangan, sebenarnya sudah tidak betah sekali bekerja, ingin mencari yang lain, namun hal paling menakutkan adalah apakah akan secepat itu mendapatkan pekerjaan yang baru.

Kehadiran sikecil memang membuat keluarga terasa ramai dan nyaman, hingga berkali kali berfikir jika ingin resign dari pekerjaan. Jujur ini membuat batin makin tertekan.

Mengapa Rasa Ingin Bunuh Diri selalu menghampiri

Pertama tekanan dari pekerjaan, dan kadang ada saja masalah rumah tangga yang membuat semakin drop, disaat pekerjaan banyak masalah dan pressurenya semakin kuat, kadang ada saja masalah dirumah tangga yang membuat pikiran semakin kacau.

Mungkin seperti inikah rasanya menjadi deawasa, harus bisa menyelesaikan masalah sendiri. Jujur rasanya tidak sanggup, jika ada mesin waktu mungkin ingin kembali ke masa lalu saja. Tapi nyatanya itu tak mungkin, kehidupan harus dihadapi.

Bahkan saat masih belum menikah, pernah terpikirkan mati muda saja, agar nantinya tidak pusing. Jadi memang semenjak dulu sudah terpikirkan apa yang akan terjadi jika melanjutkan hidup, sebegitu pesimisnya menjalani hidup.

Mindset Agak Sedikit Berubah setelah memiliki Anak

Setelah memiliki anak sebenarnya pikiran agak berbeda dengan yang sebelumnya, saya berpikir telah memiliki tanggung jawab terhadap anak, tanggung jawab membesarkannya hingga menjadi manusia yang layak.

Semua anak tidak ada yang ingin dilahirkan, melainkan orang tualah yang menginginkan mereka, jika seperti ini maka yang bisa saya tunjukan ialah kasih sayang juga berpikir agar bagaimana kehidupannya lebih baik kelak. Tidak boleh sengsara karena telah melahirkannya.

Untuk itu, saat ini perasaan bunuh diri sedikit demi sedikit akan berpikir dua kali, jika saya mati bagaimana nasib anak nanti, tak ada orang tua yang tega anaknya menjalani kehidupan yang keras jika tak dibekali kemampuan serta ilmu yang matang.

Jadi untuk kali ini, saya berusaha untuk hidup semaksimal mungkin demi anak.